Serpihan luka yang terus menggores kalbu meninggalkan nokta terdalam, menyebar bagai kepingan nyeri yang merubah aku menjadi kelemahan, terjatuh dalam lorong kelam.
Begitu dalam hingga sulit bangkit, sembuh pun enggan datang, harus dengan cara apa menjahit luka tanpa menambah rasa sakit, agar tak terus berkembang dan menguasai diri.
Harapan semu itu hidup bersama bayangan di kepala, tak pernah bisa masuk untuk sekedar menyentuh dunia imajinasi. Kapan?
Kapan? Pertanyaan itu menggantung di udara. Perlahan, harapan mulai terkikis, dimakan waktu yang tak pernah berpihak.
Apa yang hancur tak bisa diperbaiki. Apa yang sudah runtuh, tak bisa lagi dibangun pondasi kuat. Sungguh ironi, bolehkah aku tertawa sejenak, bertanya dengan lantang, kapan pernah ada keutuhan, kapan pernah menjadi bangunan yang kokoh? Bukankah sejak awal sudah rapuh, saking rapuhnya satu pukulan mampu merobohkan.
~NAIDIA
No comments:
Post a Comment